Kamis, 04 Desember 2014

1. Materi Syahadatain


KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN PROGRAM PENDAMPINGAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (P3AI)
Materi  P3AI Unsoed Semester 1/2014  1  
AHAMMIYAH SYAHADATAIN
 TUJUAN UMUM
Mengerti tentang fakta-fakta yang berhubungan dengan aqidah yang benar yang digali dari Al-Qur'an, As-
Sunah, dalil-dalil naqli dan aqli, menanamkannya dalam jiwa, dan membersihkannya dari bid'ah serta
khurafat yang mungkin mengotorinya.
 TUJUAN KOGNITIF  
1. Mengartikan makna kalimat kata per kata
2. Menjelaskan enam urgensi mempelajari  syahadatain
3. Memahami kepentingan syahadatain dalam hidup seorang muslim.
4. Memahami syahadatain sebagai pintu masuk dan intisari ajaran Islam serta menjadi dasar perubahan
total sesuatu umat.
 TUJUAN AFEKTIF  DAN PSIKOMOTORIK
1. Menyadari bahwa tegaknya Islam mesti didahului oleh tegaknya rukun Islam, dan tegaknya rukun
Islam mesti didahului oleh tegaknya syahadah
2. Mengerti bahwa tauhid adalah muatan setiap risalah nabi/rasul.
3. Mengerti hakikat agama Islam dan hal-hal yang menjadi penopangnya secara global.
4. Menyadari bahwa Islam adalah satu-satunya syariat yang diridhai Allah. Tidak dapat dicampur dengan
syariat lainnya
5. Berprilaku sesuai tuntutan kandungan dua kalimah syahadah
 KEGIATAN PEMBELAJARAN
Pilihan kegiatan yang bisa diselenggarakan  dalam halaqah adalah :
1. Kegiatan Pembuka
a. Mengkomunikasikan tentang urgensi mengkaji dua kalimat syahadah
b. Menginventarisir tentang fenomena yang berhubungan dengan tema kajian
2.   Kegiatan Inti:
a. Kajian tentang ahammiyah syahadatain
b. Berdikusi dan tanya jawab tentang ahammiyah syahadatain dengan fenomena kemusyrikan (lihat
tujuan kognitif, afektif, dan psikomotor)
c. Penekanan dari Asisten tentang nilai dan hikmah yang terkandung dalam materi ahammiyah
syahadatain.
3. Kegiatan Penutup:
a. Tugas mandiri
b. Evaluasi
 PILIHAN KEGIATAN
1. Mengadakan rihlah dan tafakkur  tentang ciptaan Allah Swt hingga dapat membuktikan adanya
pencipta dengan akalnya
KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN PROGRAM PENDAMPINGAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (P3AI)
Materi  P3AI Unsoed Semester 1/2014  2  
2. Mengumpulkan ayat-ayat al Qur`an yang menunjukkan pada tafakkur
3. Mengumpulkan ayat-ayat tentang pentingnya mengkaji dua kalimat syahadah
4. Mengumpulkan hadits-hadits yang menunjukkan hal di atas
5. Menulis makalah tentang pentingnya mengkaji dua kalimat syahadah
6. Mengumpulkan perkataan-perkataan orang muslim dan lainnya yang obyektif tentang pentingnya
mengkaji dua kalimat syahadah
 SARANA EVALUASI DAN MUTABAAH
1. Tes akademis melalui pertanyaan, diskusi dan dialog menggunakan metode pencatatan untuk
meyakinkan (menegaskan) tercapainya tujuan
2. Tes kemampuan untuk membandingkan sejauh mana tujuan telah tercapai.
 TUJUAN TARBIYAH DZATIYYAH
1. Menjelaskan pentingnya mengkaji dua kalimat syahadat dalam kehidupan seorang muslim
2. Memahami syahadah secara konsep dan aplikasinya.  
3. Menjelaskan kenapa syahadah penting karena dengan bersyahadah seseorang boleh menyebutkan
dirinya sebagai muslim,
4. Menjelaskan bahwa syahadah merupakan  pintu bagi masuknya seseorang kedalam Islam.
5. Menjelaskan bahwa kefahaman seorang muslim dapat melakukan perubahan-perubahan individu,
keluarga ataupun masyarakat.
6. Menjelaskan bahwa dalam sejarah para nabi dan rasul, syahadah sebagai kalimat yang diperjuangkan
dan kalimat inilah yang menggerakkan dakwah nabi dan rasul.  Akhir sekali, dengan syahadah tentunya
setiap muslim akan mendapatkan banyak pahala dan ganjaran yang besar dari Allah SWT.        
= Ringkasan MATERI =
Kalimat syahadatain adalah kalimat yang tidak asing lagi bagi umat Islam.  Kita senantiasa
menyebutnya setiap hari, misalnya ketika shalat dan azan. Kalimat syahadatain sering diucapkan oleh ummat
Islam dalam pelbagai keadaan. Kita menghafal kalimat syahadah dan dapat menyebutnya dengan fasih, namun
demikian sejauh manakah kesan kalimat syahadatain ini, sejauh mana ia dipahami dan diamalkan dalam
kehidupan sehari-hari ummat Islam?
KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN PROGRAM PENDAMPINGAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (P3AI)
Materi  P3AI Unsoed Semester 1/2014  3  
Pertanyaan tersebut perlu dijawab dengan realitas yang ada. Tingkah laku ummat Islam yang
terpengaruh dengan budaya jahiliyah atau cara hidup Barat memberi gambaran bahwa syahadah tidak cukup
memberi pengaruh, terbukti mereka masih melakukan perkara-perkara yang dilarang Allah dan meninggalkan
perintah-Nya, memberi kesetiaan bukan kepada kaum muslimin, atau tidak mensyukuri sesuatu yang diberikan
kepada mereka. Contoh ini adalah wujud dari seseorang yang tidak memahami syahadah yang dibacanya dan
tidak mengerti makna yang sebenarnya dibawa oleh syahadah tersebut.
Kalimat Syahadah merupakan asas utama dan landasan penting bagi rukun Islam.  Tanpa syahadah
maka rukun Islam lainnya akan runtuh, begitu juga dengan rukun Iman. Tegaknya syahadah dalam kehidupan
individu akan menegakkan ibadah dan dien dalam hidup kita. Dengan syahadatain terwujudlah sikap ruhani
yang akan memberikan motivasi kepada tingkah laku jasmaniah dan akal fikiran serta memotivasi kita untuk
melaksanakan rukun Islam lainnya.
Tegaknya Islam mesti didahului oleh tegaknya rukun Islam, dan tegaknya rukun Islam mesti didahului
oleh tegaknya syahadah. Rasulullah saw. mengisyaratkan bahwa Islam itu bagaikan sebuah bangunan. Untuk
berdirinya bangunan Islam itu harus ditopang oleh 5 (lima) tiang pokok yaitu syahadatain, shalat, saum, zakat
dan haji ke Baitulllah.
Di kalangan masyarakat Arab zaman Nabi saw. memahami betul makna syahadatain ini, terbukti dalam
suatu peristiwa dimana Nabi saw. mengumpulkan para pemimpin Quraisy dari kalangan Bani Hasyim, Nabi
saw. bersabda:  Wahai saudara-saudara, maukah kalian aku beri satu kalimat, di mana dengan kalimat itu kalian
akan dapat menguasai seluruh jazirah Arab.  Kemudian Abu Jahal menjawab:  Jangankan satu kalimat, sepuluh
kalimat berikan kepadaku. Kemudian Nabi saw. bersabda:  Ucapkanlah Laa ilaha illa Allah dan Muhammad
Rasulullah.  Abu Jahal pun menjawab: Kalau itu yang engkau minta, berarti engkau mengumandangkan
peperangan dengan semua orang Arab dan bukan Arab.
Penolakan Abu Jahal kepada kalimat ini, bukan kerana dia tidak paham akan makna dari kalimat itu,
tetapi justru sebaliknya.  Dia tidak mau menerima sikap yang mesti tunduk, taat dan patuh kepada Allah swt.
saja, dengan sikap ini maka semua orang akan tidak tunduk lagi kepadanya. Abu Jahal ingin mendapatkan
loyalitas dari kaum dan bangsanya. Penerimaan syahadah bermakna menerima semua aturan dan segala
akibatnya. Penerimaan inilah yang sulit bagi kaum jahiliyah mengaplikasikan syahadah.
Sebenarnya, apabila mereka memahami bahwa loyalitas kepada Allah itu juga akan menambah
kekuatan kepada diri kita. Mereka yang beriman semakin dihormati dan semakin dihargai. Mereka yang
memiliki kemampuan dan ilmu akan mendapatkan kedudukan yang sama apabila ia sebagai muslim. Abu Jahal
adalah tokoh di kalangan Jahiliyah dan ia memiliki banyak potensi diantaranya ialah ahli hukum (Abu Amr).
Setiap individu yang bersyahadah, maka ia menjadi khalifatullah fil Ardhi.
Kalimat syahadah mesti dipahami dengan benar, kerana di dalamnya terdapat makna yang sangat
tinggi. Dengan syahadah maka kehidupan kita akan dijamin bahagia di dunia ataupun di akhirat. Syahadah
sebagai kunci kehidupan dan tiang dari pada dien.  Oleh karena itu, marilah kita bersama memahami
syahadatain ini.
KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN PROGRAM PENDAMPINGAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (P3AI)
Materi  P3AI Unsoed Semester 1/2014  4  
1. Madkhol Ila Al-Islam  (pintu masuk ke dalam Islam).
Sahnya iman seseorang adalah dengan menyebutkan syahadatain. Kesempurnaan iman seseorang
bergantung kepada pemahaman dan pengamalan syahadatain. Syahadatain membedakan manusia kepada
muslim dan kafir. Pada dasarnya setiap manusia telah bersyahadah Rububiyah di alam arwah, tetapi ini saja
belum cukup, untuk menjadi muslim mereka harus bersyahadah Uluhiyah dan syahadah Risalah di dunia.
َر ُﺳﻮ ُل ﱠﷲِ َﺻﻠ ﱠﻰ ﱠﷲُ َﻋﻠَ ْﯿﮫِ َو َﺳﻠ ﱠَﻢ ﻟِ ُﻤ َﻌﺎ ِذ ْﺑ ِﻦ َﺟﺒَ ٍﻞ ِﺣﯿ َﻦ ﺑَ َﻌﺜَﮫُ إِﻟَﻰ اْﻟﯿَ َﻤ ِﻦ إِﻧﱠ َﻚ ﻗَﺎَل  َﺳﺘَﺄ ْﺗِﻲ ﻗَ ْﻮ ًﻣﺎ أ َ ْھ َﻞ ِﻛﺘَﺎبٍ  ﻓَﺈِ َذا ِﺟْﺌﺘَﮭُْﻢ ﻓَﺎ ْد ُﻋﮭُْﻢ إِﻟَﻰ أ َ ْن ﯾَ ْﺸﮭَ ُﺪوا أ َ ْن َﻻ إِﻟَﮫَ إِ ﱠﻻ ﱠﷲُ
ا َر ُﺳﻮ ُل ﱠﷲِ ﻓَﺈِ ْن ھُْﻢ أ َطَﺎ ُﻋﻮا ﻟَ َﻚ ﺑ ِ َﺬﻟِ َﻚ ﻓَﺄ َ ْﺧﺒ ِ ْﺮھُْﻢ أ َ ﱠن ﱠﷲَ ﻗَ ْﺪ ﻓَ َﺮ َض َﻋﻠَﯿْ ِﮭْﻢ َﺧ َوأ َ ﱠن ُﻣ َﺤ ﱠﻤ ًﺪ ْﻤَﺲ َﺻﻠََﻮاٍت  ﻓِﻲ ُﻛ ﱢﻞ ﯾَ ْﻮٍم َوﻟَ ْﯿﻠَ ٍﺔ ﻓَﺈِ ْن ھُْﻢ أ َطَﺎ ُﻋﻮا ﻟَ َﻚ ﺑ ِ َﺬﻟِ َﻚ ﻓَﺄ َ ْﺧﺒ ِ ْﺮھُْﻢ أ َ ﱠن
ﱠﷲَ ﻗَ ْﺪ ﻓَ َﺮ َض َﻋﻠَﯿِْﮭْﻢ َﺻ َﺪﻗَﺔً ﺗُ ْﺆ َﺧُﺬ ِﻣ ْﻦ أ َ ْﻏﻨِﯿَﺎﺋِ ِﮭْﻢ ﻓَﺘُ َﺮ ﱡد َﻋﻠَﻰ ﻓُﻘَ َﺮاﺋِ ِﮭْﻢ ﻓَﺈِ ْن ھُْﻢ أ َطَﺎ ُﻋﻮا ﻟَ َﻚ  ﺑ ِ َﺬﻟِ َﻚ ﻓَﺈِﯾﱠﺎ َك َو َﻛ َﺮاﺋَِﻢ أ َ ْﻣ َﻮاﻟِ ِﮭ ْﻢ َواﺗﱠ ِﻖ َد ْﻋ َﻮةَ اﻟ ْ َﻤ ْﻈﻠُﻮِم ﻓَﺈِﻧﱠﮫُ ﻟَﯿْ َﺲ ﺑَ ْﯿﻨَﮫُ َوﺑَ ْﯿ َﻦ
ﱠﷲِ ِﺣ َﺠﺎ ٌب
“Rasulullah bersabda kepada Muadz bin Jabal saat mengutusnya ke penduduk Yaman, “Kamu akan datang
kepada kaum ahli kitab. Jika kamu telah sampai kepada mereka, ajaklah mereka agar bersaksi bahwa tiada
tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah. Jika mereka mentaatimu dalam hal itu, beritakan kepada
mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka lima shalat setiap siang dan malam. Jika mereka
mentaatimu dalam hal itu beritakan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan sedekah (zakat) yang
diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan dikembalikan kepada orang-orang miskin. Jika mereka
mentaatimu dalam hal itu hati-hatilah kamu terhadap kemuliaan harta mereka dan waspadalah terhadap
doanya orang yang dizalimi, sebab antaranya dan Allah tidak ada dinding pembatas.” (Bukhari Muslim).
Pernyataan Rasulullah saw. tentang misi Laa ilaha illallah dan kewajiban manusia untuk
menerimanya. Dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah saw. bersabda,
أ ُ ِﻣ ْﺮ ُت ﺗِ َﻞ اﻟﻨﱠﺎ َس َﺣﺘﱠﻰ ﯾَ ْﺸﮭَ ُﺪوا أ َ ْن َﻻ إِﻟَﮫَ إِ ﱠﻻ ﱠﷲُ َوأ َ ﱠن ُﻣ َﺤ ﱠﻤ ًﺪا َر ُﺳﻮ ُل ﱠﷲِ َوﯾُﻘِﯿ ُﻤﻮا اﻟ ﱠﺼ أ َ ْن أ ُﻗَﺎ َﻼةَ َوﯾُ ْﺆﺗُﻮا اﻟ ﱠﺰ َﻛﺎةَ ﻓَﺈِ َذا ﻓَ َﻌﻠُﻮا َﻋ َﺼ ُﻤﻮا ِﻣﻨﱢﻲ ِدَﻣﺎ َءھُْﻢ َوأ َ ْﻣ َﻮاﻟَﮭُْﻢ إِ ﱠﻻ
ﺑ ِ َﺤﻘﱢﮭَﺎ َو ِﺣ َﺴﺎﺑُﮭُْﻢ َﻋ ﻠَﻰ ﱠ ﷲِ
“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan
Muhammad utusan Allah, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Jika mereka telah melakukan hal itu,
terperihalah darah dan harta benda mereka kecuali dengan haknya sedangkan hisab mereka kepada Allah.”
(Bukhari Muslim).
 Pentingnya mengerti, memahami dan melaksanakan syahadatain.  Manusia berdosa akibat melalaikan
pemahaman dan pelaksanaan syahadatain.
“Maka Ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, Tuhan) selain Allah dan mohonlah
ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah
mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tingal.” (Muhammad: 19).
menunjukan bahwa ketidak konsistenan sikap seseorang dengan pernyataan tauhidnya (Laa Ilaaha
Illallah) adalah perbuatan dosa, karena pernyataan tersebut pada hakikatnya adalah pernyataan ikrar
kecintaan, ketaatan dan rasa takut hanya kepada Allah semata, maka bila seseorang muslim tidak
menunaikan shalat, tidak menutup aurat, terlibat dalam pergaulan bebas antar lawan jenis, hal itu
merupakan sikap tidak konsisiten dengan pernyataan Laa Ilaaha Illallah. Karena dengan sikap seperti itu,
cinta, taat, dan rasa takutnya tidak diarahkan kepada Allah, tetapi kepada hawa nafsunya sendiri.
KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN PROGRAM PENDAMPINGAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (P3AI)
Materi  P3AI Unsoed Semester 1/2014  5  
Manusia menjadi kafir karena menyombongkan diri terhadap Laa ilaha illa Allah dan tidak mau
mengesakan Allah. “Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: "Laa ilaaha illallah"
(Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri.” (As-Shaffat: 35).
Yang dimaksud menyombongkan diri ketika diperdengarkan kalimat ”Laa Ilaa ha illallah” tidak
semata-mata karena tidak mau mengucapkan atau mendengarkannya, tetapi yang yang dimaksud adalah
substansinya, yaitu hanya taat, takut dan cinta kepada Allah. Karena itu kesombongan diri dalam ayat ini
maksudnya adalah sikap tidak mau taat dan tunduk kepada perintah Allah, seperti perintah shalat, menutup
aurat, menjauhi pergaulan bebas, berkhalwat dengan yang bukan mahramnya dan sebagainya.
2. Khulashah Ta’alim Islam  (Ringkasan Ajaran Islam).
  Pemahaman muslim terhadap Islam bergantung kepada pemahamannya terhadap syahadatain.
Sebab seluruh ajaran Islam terdapat dalam dua kalimat yang sederhana ini. Ada 3 hal prinsip syahadatain :
a. Pernyataan Laa ilaha illa Allah merupakan penerimaan penghambaan atau ibadah kepada
Allah saja. Melaksanakan minhajillah merupakan ibadah kepada-Nya.
b. Menyebut Muhammad Rasulullah merupakan dasar penerimaan cara penghambaan itu dari
Muhammad saw. Dan Rasulullah adalah tauladan dalam mengikuti Manhaj Allah.
c. Penghambaan kepada Allah meliputi seluruh aspek kehidupan. Ia mengatur hubungan
manusia dengan Allah dengan dirinya sendiri dan dengan masyarakatnya.
Makna Laa ilaha illa Allah adalah penghambaan kepada Allah.  21:25, Rasul diutus dengan membawa
ajaran tauhid. “Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang
sebelummu, agar kamu bertakwa.” (Al-Baqarah: 21).
Manusia diciptakan untuk menghambakan dirinya kepada Allah semata.
 “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (Az-Dzariyat:
56).
 “Dan kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan kami wahyukan kepadanya:
"Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan aku.” (Al-
Anbiya’: 25).
Muhammad saw. adalah tauladan dalam setiap aspek kehidupan.  3:31, aktifitas hidup hendaknya mengikuti
ajaran Muhammad SAW.
 “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang
mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Al-Ahzab: 21).
Meneladani Rasulullah menjadi parameter keimanan dan kecintaan seseorang kepada Allah. Bukti cinta kepada
Allah adalah dengan mengikuti ajaran Rasulullah saw.
 “Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan
mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ali Imran: 31).
KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN PROGRAM PENDAMPINGAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (P3AI)
Materi  P3AI Unsoed Semester 1/2014  6  
Seluruh aktivitas hidup manusia secara individu, masyarakat dan negara mesti ditujukan kepada mengabdi Allah
SWT sahaja.  
“Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan
semesta alam.” (Al-An’am: 162).
Islam adalah satu-satunya syariat yang diridhai Allah. Tidak dapat dicampur dengan syariat lainnya.
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah
diberi Al-Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara
mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.”
(Ali Imran; 19).  
“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)
daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Ali Imran: 85).
 “Kemudian kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah
syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak Mengetahui.” (Al-Jatsiyah: 18).
“Dan bahwa (yang kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu
mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalannya. yang demikian
itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (Al-An’am: 163)
3. Asasul Inqilab  (dasar-dasar perubahan).
Syahadatain mampu manusia dalam aspek keyakinan, pemikiran, maupun jalan hidupnya.  Perubahan meliputi
berbagai aspek kehidupan manusia secara individu atau masyarakat.
Ada perbedaan penerimaan syahadatain pada generasi pertama umat Muhammad dengan generasi sekarang.
Perbedaan tersebut disebabkan  kefahaman terhadap makna syahadatain secara bahasa dan pengertian, sikap
konsisten terhadap syahadah tersebut dalam pelaksanaan ketika menerima maupun menolak.
Umat terdahulu langsung berubah ketika menerima syahadatain. Sehingga mereka yang tadinya bodoh menjadi
pandai, yang kufur menjadi beriman, yang bergelimang dalam maksiat menjadi takwa dan abid, yang sesat
mendapat hidayah. Masyarakat yang tadinya bermusuhan menjadi bersaudara di jalan Allah.
Syahadatain dapat merubah masyarakat dahulu maka syahadatain pun dapat merubah umat sekarang menjadi
baik.
KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN PROGRAM PENDAMPINGAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (P3AI)
Materi  P3AI Unsoed Semester 1/2014  7  
Penggambaran Allah tentang perubahan yang terjadi pada para sahabat Nabi, yang dahulunya berada dalam
kegelapan jahiliyah kemudian berada dalam cahaya Islam yang gemilang. “Dan apakah orang yang sudah mati1 kemudian dia kami hidupkan dan kami berikan kepadanya cahaya yang
terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang
yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah kami
jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan.” (Al-An’am: 122).
Perubahan individu contohnya terjadi pada Muz’ab bin Umair yang sebelum mengikuti dakwah rasul
merupakan pemuda yang paling terkenal dengan kehidupan yang glamour di kota Mekkah tetapi setelah
menerima Islam, ia menjadi pemuda sederhana yang da’i, duta rasul untuk kota Madinah. Kemudian menjadi
syuhada Uhud.  Saat syahidnya rasulullah membacakan ayat ini.
“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada
Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu dan
mereka tidak merubah (janjinya).” (Al-Ahzab: 23).
Reaksi masyarakat Quraisy terhadap kalimat tauhid.  85:6-10, reaksi musuh terhadap keimanan kaum mukminin
terhadap Allah 18:2, 8:30, musuh memerangi mereka yang konsisten dengan pernyataan Tauhid.  
“Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: "Laa ilaaha illallah" (Tiada Tuhan yang
berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri. Dan mereka berkata: "Apakah Sesungguhnya
kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair gila?" Sebenarnya dia
(Muhammad) telah datang membawa kebenaran dan membenarkan rasul-rasul (sebelumnya).” (As-Shaffat: 35-
37).
“Ketika mereka duduk di sekitarnya. Sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-
orang yang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang
mukmin itu beriman kepada Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. Yang mempunyai kerajaan langit dan
bumi; dan Allah Maha menyaksikan segala sesuatu. Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan
kepada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi
mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar.” (Al-Buruj: 6-10).
 “Sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah dan memberi
berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal saleh, bahwa mereka akan mendapat
pembalasan yang baik.” (Al-Kahfi: 2).
 
“Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan
memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. mereka memikirkan tipu daya dan Allah
menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (Al-Anfal: 30).
                                                             1  Maksudnya ialah orang yang telah mati hatinya yakni orang-orang kafir dan sebagainya.
KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN PROGRAM PENDAMPINGAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (P3AI)
Materi  P3AI Unsoed Semester 1/2014  8  
4. Haqiqat Dakwah Rasul.
Setiap Rasul semenjak nabi Adam as. hingga nabi besar Muhammad saw. membawa misi dakwahnya adalah
syahadah. Apa yang diwahyukan kepada Rasulullah sama dengan apa yang diwahyukan kepada nabi-nabi
sebelumnya. Allah berfirman,
“Sesungguhnya kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana kami telah memberikan wahyu kepada
Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma'il, Ishak,
Ya'qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. dan kami berikan Zabur kepada Daud.”
(An-Nisa’: 163).
Mereka semua mengajak manusia untuk mentauhidkan Allah semata dan hanya menyembah kepada-Nya.
Seperti yang diserukan Nuh sa. kepada kaumnya.
 “Sesungguhnya kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: "Wahai kaumku sembahlah Allah,
sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya." Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), Aku takut
kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat).” (Al-A’raf: 59).
Nabi Ibrahim berdakwah kepada masyarakat untuk membawanya kepada pengabdian Allah saja serta
membebasakan diri dari kesyirikan.
 “Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan
Dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari
daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu
permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya,2 "Sesungguhnya Aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan Aku tiada dapat
menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah". (Ibrahim berkata): "Ya Tuhan kami hanya kepada Engkaulah
kami bertawakal dan Hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali."
(Al-Mumtahanah: 4).
Para nabi membawa dakwah bahwa ilah yang satu yaitu Allah saja.
“Katakanlah: Sesungguhnya Aku Ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa
sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa". barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya,
maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam
beribadah kepada Tuhannya." (Al-Kahfi: 110).
5. Fadailul A’dhim  (ganjaran yang besar)
Banyak ganjaran yang diberikan oleh Allah dan dijanjikan oleh Nabi Muhammad saw. Di antaranya seseorang
akan dimasukkan ke dalam surga dan dikeluarkan dari neraka seperti sabda Rasulullah saw.
                                                            
KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN PROGRAM PENDAMPINGAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (P3AI)
Materi  P3AI Unsoed Semester 1/2014  9  
َﻋْﻦ ُﻋﺒَﺎ َدةَ َر ِﺿ َﻲ ﱠﷲُ َﻋْﻨ ﮫُ ﺒ ِ ﱢﻲ َﺻﻠ ﱠﻰ ﱠﷲُ َﻋﻠَ ْﯿ ِﮫ َو َﺳﻠ ﱠَﻢ ﻗَﺎ َل َﻣ ْﻦ َﺷ ِﮭَﺪ أ َ ْن َﻻ إِﻟَﮫَ إِ ﱠﻻ ﱠﷲُ َو ْﺣ َﺪهُ َﻻ َﺷ ِﺮﯾ َﻚ ﻟَﮫُ َﻋْﻦ اﻟﻨﱠ َوأ َ ﱠن ُﻣ َﺤ ﱠﻤ ًﺪا َﻋ ْﺒ ُﺪهُ َو َر ُﺳﻮﻟُﮫُ َوأ َ ﱠن ِﻋﯿ َﺴﻰ َﻋ ْﺒ ُﺪ ﱠﷲِ
َو َر ُﺳﻮﻟُﮫُ َو َﻛﻠِ َﻤﺘُﮫُ أ َْﻟﻘَﺎھَ َ ُرو ٌح ِﻣﻨْﮫُ َواْﻟ َﺠﻨﱠﺔُ َﺣ ﱞﻖ َواﻟﻨﱠﺎ ُر َﺣ ﱞﻖ أ َ ْد َﺧﻠَﮫُ ﱠﷲُ اْﻟ َﺠﻨﱠﺔَ َﻋﻠَﻰ َﻣﺎ َﻛﺎ َن ِﻣ ْﻦ اْﻟَﻌَﻤ ﺎ إِﻟَﻰ َﻣ ْﺮﯾََﻢ و ِﻞ
Ubadah bin Shamit meriwayatkan dari Nabi saw. beliau bersabda, “Barangsiapa mengatakan tiada ilah selain
Allah tiada sekutu bagi-Nya dan bahwa Muhammad adalah utusan-Nya dan Rasul-Nya, bahwa Isa adalah hamba
dan utusan-Nya, kalimat-Nya yang dicampakkan kepada Maryam dan ruh dari-Nya, dan bahwa surga adalah
haq serta neraka itu haq. Allah akan memasukkannya ke surge, apapun amal perbuatannya.” (Bukhari).  
َﻋ ْﻦ أ َﻧَﺲ ٍ  ﱢﻲ َﺻﻠ ﱠﻰ ﱠﷲُ َﻋﻠَ ْﯿ ِﮫ َو َﺳﻠ ﱠَﻢ ﻗَﺎ َل ﯾَ ْﺨ ُﺮ ُج ِﻣ ْﻦ اﻟﻨﱠﺎر ِ َﻣ ْﻦ ﻗَﺎ َل َﻻ إِﻟَﮫَ إِ ﱠﻻ ﱠﷲُ َوﻓِﻲ ﻗَْﻠ َﻋ ْﻦ اﻟﻨﱠﺒ ِ ﺒ ِ ِﮫ َو ْز ُن َﺷ ِﻌﯿ َﺮ ٍة ِﻣ ْﻦ َﺧ ْﯿ ٍﺮ َوﯾَ ْﺨ ُﺮ ُج ِﻣ ْﻦ اﻟﻨﱠﺎ ِر َﻣ ْﻦ ﻗَﺎ َل َﻻ إِﻟَﮫَ إِ ﱠﻻ ﱠﷲُ َوﻓِﻲ ﻗَْﻠﺒ ِ ِﮫ َو ْز ُن ﯿْ ٍﺮ َوﯾَ ْﺨ ُﺮ ُج ِﻣ ْﻦ اﻟﻨﱠﺎ ِر َﻣ ْﻦ ﻗَﺎ َل َﻻ إِﻟَﮫَ إِ ﱠﻻ ﱠﷲُ َوﻓِﻲ ﻗَْﻠﺒ ِﮫِ َو ْز ُن َذ ﱠرةٍ ِﻣ ْﻦ َﺧ ْﯿﺮ ٍ ﺑُﱠﺮٍة ِﻣْﻦ َﺧ
Dari Anas dari Nabi saw. bersabda, “keluar dari neraka orang yang mengucapkan la ilaha illallah dn di hatinya
ada seberat rambut kebaikan. Keluar dari neraka orang yang mengucapkan la ilaha illallah sedang di hatinya ada
seberat gandum kebaikan. Dan keluar dari neraka orang yang mengatakan la ilaha illallah sedang di hatinya ada
seberat zarrah kebaikan.” (Bukhari).
Orang yang mengikrarkan syahadat akan mendapatkan syafaat Rasulullah di hari Kiamat. Seperti sabda beliau,
َﻋ ْﻦ أ َﺑ ِﻲ ھُ َﺮ ْﯾ َﺮةَ أ َﻧﱠﮫُ ﻗَﺎ َل  ُﻮ َل ﱠﷲِ َﻣ ْﻦ أ َ ْﺳ َﻌ ُﺪ اﻟﻨﱠﺎ ِس ﺑ ِ َﺸﻔَﺎ َﻋﺘِ َﻚ ﯾَ ْﻮَم اْﻟﻘِﯿَﺎ َﻣﺔِ ﻗَﺎ َل َر ُﺳﻮ ُل ﱠﷲِ َﺻﻠ ﱠﻰ ﱠﷲُ َﻋﻠَ ْﯿ ﻗِﯿَﻞ ﯾَﺎ َرﺳ ﮫِ َو َﺳﻠ ﱠَﻢ ﻟَﻘَ ْﺪ ظَﻨَْﻨ ُﺖ ﯾَ ﺎ أ َﺑَﺎ ھُ َﺮ ْﯾ َﺮةَ أ َ ْن َﻻ ﯾَ ْﺴﺄ َﻟُﻨِﻲ َﻋ ْﻦ ھَ َﺬا اْﻟ َﺤ ِﺪﯾ ِﺚ أ ََﺣ ٌﺪ أ َ ﱠو ُل ِﻣْﻨ َﻚ ﻟِ َﻤﺎ َرأ َ ْﯾ ُﺖ ِﻣ ْﻦ ِﺣ ْﺮ ِﺻ َﻚ َﻋﻠَﻰ اْﻟ َﺤ ِﺪﯾﺚِ أ َ ْﺳ َﻌﺪُ اﻟﻨﱠﺎ ِس ﺑ ِ َﺸﻔَﺎ َﻋﺘِﻲ ﯾَ ْﻮ َم اﻟ ْﻘِﯿَﺎ َﻣِﺔ َﻣ ْﻦ ﻗَﺎ َل َﻻ إِﻟَﮫَ إِ ﱠﻻ ﱠﷲُ َﺧﺎﻟِ ًﺼﺎ ِﻣ ْﻦ ﻗَْﻠﺒ ِﮫِ أ َ ْو ﻧَْﻔ ِﺴﮫِ
Abu Hurairah berkata, Rasulullah saw. ditanya, siapakah orang yang paling berbahagia dengan syafaatmu di
hari Kiamat? Rasulullah saw bersabda, “Aku telah mengira ya Abu Hurairah, bahwa tidak ada seorang pun yang
tanya tentang hadits ini yang lebih dahulu daripada kamu, karena aku melihatmu sangat antusias terhadap hadits.
Orang yang paling bahagia dengan syafaatku di hari Kiamat adalah yang mengatakan la ilaha illallah secara
ikhlas dari hatinya atau jiwanya.” (Bukhari).  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar